Berbasis Nabati
untuk Planet
Mengatasi Dampak Lingkungan dari Makanan
Masa depan planet kita bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini. Pertanian hewan industri adalah penyebab utama deforestasi, polusi air, dan emisi gas rumah kaca. Masalah-masalah ini mengancam ekosistem kita, sehingga mendesak untuk mengadopsi pendekatan Berbasis Nabati untuk Planet guna menemukan alternatif yang lebih ramah Bumi.
Memilih gaya hidup nabati adalah cara yang kuat untuk membantu planet ini. Saat kita lebih banyak mengonsumsi makanan nabati, kita menggunakan lebih sedikit lahan dan air, serta menghasilkan lebih sedikit emisi. Pertanian nabati lebih efisien daripada beternak hewan, sehingga kita dapat memberi makan lebih banyak orang dengan sumber daya yang lebih sedikit. Ini membantu lingkungan dan mendukung akses pangan yang adil bagi semua orang.
Hidup nabati membantu melindungi keanekaragaman hayati. Ketika lebih sedikit hewan yang diternakkan, hutan, lautan, dan padang rumput memiliki kesempatan untuk pulih. Dengan memprioritaskan Berbasis Nabati untuk Planet, kita memberikan lebih banyak ruang bagi satwa liar dan membantu memulihkan habitat alami. Ini adalah cara untuk hidup berdampingan dengan alam, bukan melawannya.
Pilihan nabati juga tentang kasih sayang dan melakukan apa yang benar. Pilihan ini menunjukkan rasa hormat terhadap hewan, planet, dan generasi mendatang. Setiap makanan adalah kesempatan untuk membuat perbedaan positif dan bergerak menuju dunia yang lebih adil dan berkelanjutan.
Hidup nabati kini lebih mudah dari sebelumnya. Ada banyak buah, sayuran, biji-bijian, dan makanan nabati baru yang lezat untuk dicoba. Makan dengan cara ini tidak hanya baik untuk planet ini—tetapi juga dapat menghasilkan kesehatan yang lebih baik, makanan yang menarik, dan ikatan yang lebih erat dengan alam.
Setiap pilihan berarti. Saat kita memilih hidup nabati, kita membantu menciptakan udara yang lebih bersih, tanah yang lebih sehat, dan ekosistem yang lebih kuat. Gerakan ini tentang memiliki lebih banyak—lebih banyak kesehatan, lebih banyak kebaikan, dan lebih banyak harapan untuk masa depan.
Jalannya sudah jelas: dunia yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih penuh kasih sayang sudah dalam jangkauan. Dengan memilih nabati, kita memilih Bumi.
Cowspiracy
Rahasia Keberlanjutan
Film yang tidak ingin Anda lihat oleh organisasi lingkungan!
Adopsi Gaya Hidup Nabati. Berbahagialah.
Segala sesuatu di alam saling terhubung, dan apa yang kita makan memengaruhi dunia di sekitar kita—terutama lingkungan kita. Anda dapat membuat perbedaan tiga kali sehari hanya dengan memilih makanan yang lebih ramah terhadap planet ini.
Biaya dari
Pilihan Kita
Pertanian hewan menghasilkan limbah dan gas rumah kaca dalam jumlah besar, mencemari tanah, udara, dan air kita. Dampak lingkungan yang signifikan dari produksi pangan ini mendorong perubahan iklim, degradasi lahan, dan keruntuhan ekosistem.
15.000
liter
air diperlukan untuk memproduksi hanya satu kilogram daging sapi — sebuah contoh nyata bagaimana peternakan hewan mengonsumsi sepertiga air tawar dunia.
+400
jenis
gas beracun dan lebih dari 300 juta ton kotoran dihasilkan oleh peternakan pabrik, meracuni udara dan air kita.
75%
lahan pertanian global dapat dibebaskan jika dunia mengadopsi pola makan nabati — membuka lahan seluas gabungan Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa.
60%
dari hilangnya keanekaragaman hayati global terkait dengan produksi pangan — dengan peternakan hewan sebagai pendorong utamanya.
Jadilah vegan demi lingkungan
Bagaimana pola makan Anda bisa mengubah dunia
Sejak tahun 1960-an, populasi global telah berlipat ganda—tetapi produksi daging dunia telah meningkat empat kali lipat. Di beberapa wilayah, peternakan meroket: produksi babi pada tahun 2013 adalah 4,5 kali lebih tinggi dari tahun 1961, dan produksi ayam telah melonjak hampir 13 kali lipat.
Angka-angka yang mencengangkan ini tidak melambat. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, produksi daging global bisa hampir dua kali lipat lagi, didorong oleh meningkatnya permintaan daging, telur, dan susu dalam pola makan Barat—dan seluruh dunia mengikuti jejak yang sama.
Konsekuensinya bagi planet kita sangat mendalam. Perluasan peternakan mempercepat pemanasan global, deforestasi, kelangkaan air, degradasi tanah, polusi, dan mengancam banyak spesies dengan kepunahan. Lebih banyak hewan membutuhkan lebih banyak tanaman pakan, menciptakan lingkaran setan: Bumi tidak dapat menopang pertumbuhan populasi manusia dan peternakan hewan industri secara bersamaan. Pada tahun 2050, mungkin ada 2–4 miliar orang tambahan yang harus diberi makan, memberikan tekanan besar pada ekosistem yang sudah rapuh.
Jika kita benar-benar ingin mengurangi jejak karbon, menghemat air, mengurangi penggunaan energi, dan hidup lebih berkelanjutan, tindakan paling kuat ada di piring kita. Beralih ke pola makan nabati bukan hanya pilihan kesehatan pribadi—ini adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi planet, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menciptakan masa depan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Setiap makanan berarti. Setiap pilihan berarti. Jadilah vegan—demi planet ini.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/4/ap106e/ap106e.pdf
➡️ http://faostat3.fao.org/browse/rankings/commodities_by_regions/E
➡️ http://faostat3.fao.org/browse/rankings/commodities_by_regions/E
➡️ https://www.fao.org/4/ap106e/ap106e.pdf
➡️ https://link.springer.com/article/10.1007/s10584-014-1169-1
Planet dalam Krisis
Dampak Lingkungan Peternakan Hewan
Saat ini, lebih dari sebelumnya, orang-orang di seluruh dunia merasakan dampak nyata dari krisis iklim global. Aktivitas manusia mendorong perubahan ini, dan dampak lingkungan dari makanan—khususnya dari peternakan hewan—adalah kontributor utama, bertanggung jawab atas 14,5% emisi gas rumah kaca global. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, hal ini “memberikan tekanan yang semakin besar pada sumber daya alam planet,” yang mengakibatkan degradasi lahan, polusi saluran air, dan hilangnya banyak spesies. Beralih ke sistem pangan berkelanjutan bukan hanya soal menyelamatkan planet; ini diperlukan untuk kelangsungan hidup, kebahagiaan, dan masa depan semua makhluk hidup di Bumi.

Kehilangan Keanekaragaman Hayati
Kehilangan keanekaragaman hayati semakin cepat, dengan satu juta spesies terancam punah sementara tiga perempat makanan dunia berasal dari hanya 12 tanaman dan lima spesies hewan. Peternakan hewan industri adalah pendorong utama krisis ini, tetapi memilih pola makan dan gaya hidup berkelanjutan dapat membantu melindungi ekosistem, melestarikan satwa liar, dan menjaga keseimbangan alami planet.

Deforestasi & Kehilangan Habitat
Deforestasi dan hilangnya habitat adalah salah satu konsekuensi paling merusak dari peternakan hewan, menghilangkan hutan, mengusir satwa liar, dan mempercepat perubahan iklim. Melindungi ekosistem ini sangat penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan kesehatan planet.

Polusi Air & Kelangkaan Air
Produksi makanan berbasis hewan mengonsumsi air yang jauh lebih banyak daripada alternatif nabati, mendorong polusi dan kelangkaan di seluruh dunia. Mengubah pilihan makanan dapat membantu menghemat air tawar, memulihkan ekosistem, dan mendukung masa depan yang lebih berkelanjutan.

Degradasi Tanah
Sekitar seperempat lahan dunia berubah menjadi gurun akibat perubahan iklim dan perluasan peternakan. Peternakan hewan intensif menghabiskan nutrisi tanah, berkontribusi pada erosi, dan mempercepat degradasi lahan. Mengadopsi sistem nabati dapat memulihkan kesehatan tanah, melindungi ekosistem, dan mengamankan lahan subur untuk generasi mendatang.

Emisi Gas Rumah Kaca
Emisi gas rumah kaca dari peternakan hewan secara signifikan mempercepat pemanasan global, mengganggu keseimbangan iklim, dan membahayakan manusia dan satwa liar. Mengatasi masalah ini adalah pusat dari menciptakan planet yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
Jejak Lingkungan
susu sapi dan susu nabati
Dampak diukur per liter susu. Ini didasarkan pada meta-analisis studi dampak sistem pangan di seluruh rantai pasokan, yang mencakup perubahan penggunaan lahan, produksi di pertanian, pemrosesan, transportasi, dan pengemasan.
Tekanan Lingkungan
dari Produksi Pangan Berbasis Hewan
Penggunaan Lahan
Kita dengan cepat kehabisan ruang untuk menanam cukup makanan, dengan tiga perempat lahan pertanian dunia sudah digunakan untuk peternakan. Permintaan lahan yang luas ini berkontribusi pada deforestasi, perusakan habitat, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Karena lahan subur yang tersedia menjadi semakin terbatas, perluasan sistem peternakan menimbulkan kekhawatiran serius tentang penggunaan lahan berkelanjutan dan ketahanan pangan jangka panjang.
Penggunaan Air
Produksi peternakan sangat intensif dalam penggunaan air, membutuhkan volume air tawar yang besar untuk budidaya pakan ternak, hidrasi hewan, dan pemrosesan. Dibandingkan dengan sistem pangan nabati, produksi berbasis hewani biasanya menggunakan air yang jauh lebih banyak per unit hasil. Di daerah yang mengalami tekanan air, tingkat konsumsi ini menambah beban pada sumber daya air tawar yang sudah terbatas.
Penangkapan Ikan Berlebihan
Meningkatnya permintaan global akan makanan laut telah menyebabkan penangkapan ikan yang berlebihan secara meluas, dengan banyak stok ikan yang dipanen melampaui tingkat yang berkelanjutan. Eksploitasi berlebihan ini mengganggu ekosistem laut, mengurangi keanekaragaman hayati, dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada perikanan.
Fakta Berbasis Nabati
Apakah Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang pola makan nabati? Baru memulai perjalanan Anda menuju gaya hidup nabati? Atau mungkin Anda sudah sangat ahli di bidang ini? Mari kita jelajahi seberapa banyak fakta-fakta ini yang sudah Anda kenali.
Gas Rumah Kaca
Fakta Berbasis Nabati
Peternakan hewan menyumbang 18% dari emisi gas rumah kaca global—melampaui total emisi yang dihasilkan oleh semua bentuk transportasi jika digabungkan.
Penelitian oleh World Watch Institute di Washington menunjukkan bahwa ternak dan produk sampingannya menghasilkan setidaknya 32 miliar ton karbon dioksida (CO2) setiap tahunnya, yang mewakili 51% dari emisi gas rumah kaca global. Emisi untuk pertanian diperkirakan akan meningkat 80% pada tahun 2050 di tingkat global.
Peternakan mengeluarkan sekitar 65% dari total emisi dinitrogen oksida yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Dinitrogen oksida adalah gas rumah kaca yang kuat dengan potensi pemanasan global 296 kali lebih besar daripada karbon dioksida, dan dapat bertahan di atmosfer selama sekitar 150 tahun, sehingga berdampak besar pada perubahan iklim dalam jangka panjang.
Sapi menghasilkan 150 miliar galon metana setiap hari. Metana adalah gas rumah kaca yang kuat, dengan potensi pemanasan global diperkirakan 25 hingga 100 kali lebih besar daripada karbon dioksida selama 20 tahun. Pelepasannya ke atmosfer memainkan peran signifikan dalam perubahan iklim jangka pendek, yang menjadikan peternakan sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca global.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/4/a0701e/a0701e00.htm
➡️ https://www.ecologylawquarterly.org/currents/a-leading-cause-of-everything-one-industry-that-is-destroying-our-planet-and-our-ability-to-thrive-on-it-by-chr/
➡️ https://awellfedworld.org/wp-content/uploads/Livestock-Climate-Change-Anhang-Goodland.pdf
➡️ https://www.eia.gov/environment/emissions/ghg_report/ghg_nitrous.php
➡️ https://www.ibtimes.com/cow-farts-have-larger-greenhouse-gas-impact-previously-thought-methane-pushes-climate-1487502
➡️ https://www.pnas.org/doi/full/10.1073/pnas.1314392110
Fakta Berbasis Nabati tentang Lahan
Peternakan dan lahan yang digunakan untuk menanam pakan ternak menempati sepertiga dari lahan bebas es di planet ini. Pertanian hewan merupakan pendorong utama kepunahan spesies, terciptanya zona mati di laut, polusi air, dan kerusakan habitat yang meluas.
Sekitar 30 hingga 45% dari total permukaan daratan Bumi saat ini digunakan untuk peternakan dan menanam pakan ternak. Ini mewakili hampir 75% dari seluruh lahan pertanian di seluruh dunia. Ini menunjukkan jejak lahan yang besar dari pertanian hewan dan efeknya terhadap ekosistem global.
Pertanian hewan memainkan peran besar dalam hilangnya keanekaragaman hayati. Peternakan menyebabkan kerusakan habitat, polusi, dan perubahan iklim; semua ini menyebabkan penurunan cepat pada banyak spesies. Selain itu, penangkapan ikan industri, yang menyediakan pakan untuk beberapa ternak, memperburuk penurunan keanekaragaman hayati laut.
Peternakan di darat telah berkontribusi pada pembentukan lebih dari 500 zona mati yang kaya nitrogen di lautan di seluruh dunia. Tapi apa sebenarnya zona mati itu? Zona mati, yang secara ilmiah dikenal sebagai hipoksia, terjadi ketika kadar oksigen dalam air turun ke tingkat yang sangat rendah, sehingga menyulitkan kehidupan laut untuk bertahan hidup.
Secara global, 1/3 dari seluruh planet telah mengalami desertifikasi, dengan peternakan sebagai penyebab utamanya. Diperkirakan 18 juta hektar hutan hilang setiap tahun. 1-2 hektar hutan hujan ditebang setiap detik.
Kepunahan massal terbesar dalam 65 juta tahun.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/4/ar591e/ar591e.pdf
➡️ https://www.fao.org/4/a0701e/a0701e00.htm
➡️ https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/36ade937-4641-46ed-aac4-6162717d8a7f/content
➡️ https://www.nature.com/articles/nature01014
➡️ https://science.time.com/2013/12/16/the-triple-whopper-environmental-impact-of-global-meat-production/
➡️ https://cgspace.cgiar.org/server/api/core/bitstreams/3156f027-c037-4836-80d3-22edc54d720e/content
➡️ https://opsociety.org/how-is-animal-agriculture-killing-the-planet/#:~:text=The%20expansion%20of%20animal%20agriculture,species%2C%20further%20depletes%20marine%20biodiversity.
➡️ https://www.fao.org/4/i0680e/i0680e04.pdf
➡️ https://www.smithsonianmag.com/science-nature/ocean-dead-zones-are-getting-worse-globally-due-climate-change-180953282/
➡️ https://phys.org/news/2006-02-mass-extinction-species-begun.html
➡️ https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.1400253
Ekosistem Laut
Fakta Berbasis Nabati
3/4 perikanan dunia telah dieksploitasi atau habis. Jika laju penangkapan ikan berlebihan dan degradasi laut saat ini terus berlanjut, para ilmuwan memperingatkan bahwa lautan kita bisa hampir tanpa ikan pada tahun 2048, yang menyebabkan konsekuensi ekologis yang dahsyat.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dalam laporan dua tahunannya berjudul The State of World Fisheries and Aquaculture, memperingatkan bahwa lebih dari tiga perempat stok ikan global berada dalam kondisi dieksploitasi penuh, dieksploitasi berlebihan, menipis, atau dalam proses pemulihan dari penipisan.
Setiap tahun, sekitar 90 hingga 100 juta ton ikan ditangkap dari lautan dunia, memberikan tekanan signifikan pada ekosistem laut. Jika penangkapan ikan berlebihan terus berlanjut pada tingkat saat ini, para ilmuwan memperingatkan bahwa pada tahun 2048 lautan kita bisa hampir sepenuhnya tanpa ikan.
Setiap tahun, hingga 2,7 triliun hewan laut diambil dari lautan, dengan total tangkapan ikan mencapai puncak sekitar 85 juta ton. Pengambilan besar-besaran ini memberikan tekanan luar biasa pada ekosistem laut dan mengancam keseimbangan kehidupan laut.
Untuk setiap 0,45 kg ikan yang dipanen, hingga 2,27 kg spesies laut yang tidak diinginkan juga tertangkap dan dibuang sebagai tangkapan sampingan. Mengejutkan, sebanyak 40% dari total tangkapan ikan global—setara dengan sekitar 28,6 miliar kilogram setiap tahun—dibuang kembali ke laut, seringkali dalam keadaan mati atau sekarat.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa hingga 650.000 paus, lumba-lumba, dan anjing laut terbunuh setiap tahun sebagai tangkapan sampingan dalam operasi penangkapan ikan. Selain itu, antara 40 hingga 50 juta hiu hilang setiap tahun, tertangkap di pancing rawai atau terjerat jaring ikan.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/4/a0701e/a0701e00.htm
➡️ https://www.fao.org/publications/fao-flagship-publications/the-state-of-world-fisheries-and-aquaculture/en
➡️ https://www.fao.org/4/i2727e/i2727e01.pdf
➡️ https://opil.ouplaw.com/display/10.1093/law:epil/9780199231690/law-9780199231690-e1162?p=emailA2bBUeEf24la2&d=/10.1093/law:epil/9780199231690/law-9780199231690-e1162#
➡️ https://ourworldindata.org/fish-and-overfishing
➡️ https://cdn.ioos.noaa.gov/media/2017/12/worm-et-al.pdf
➡️ https://www.nationalgeographic.com/environment/topic/oceans
➡️ https://www.nationalgeographic.com/animals/article/seafood-biodiversity
➡️ https://www.fishcount.org.uk/published/std/fishcountstudy.pdf
➡️ https://fishcount.org.uk/fish-count-estimates-2
➡️ https://www.nature.com/articles/ncomms10244
➡️ https://www.fao.org/4/W6602E/w6602E09.htm
➡️ https://oceana.org/wp-content/uploads/sites/18/Bycatch_Report_FINAL.pdf
➡️ https://awionline.org/sites/default/files/products/AWI-MA-SharksAtRiskBrochure.pdf
Fakta Berbasis Nabati tentang Limbah
Setiap menit, jutaan kilogram limbah hewan dihasilkan di seluruh dunia dari hewan yang dipelihara untuk pangan, berkontribusi besar terhadap polusi, emisi gas rumah kaca, dan tekanan pada sumber daya planet kita.
Setiap menit, hewan yang dipelihara untuk pangan di Amerika Serikat menghasilkan 7 juta pon kotoran yang mencengangkan. Secara total, industri daging menghasilkan sekitar 1,4 miliar ton limbah hewan setiap tahunnya—sekitar 130 kali lebih banyak dari jumlah limbah manusia yang dihasilkan di negara tersebut. Rata-rata, ini setara dengan sekitar 5 ton limbah hewan per orang setiap tahun di AS, menyoroti dampak lingkungan yang sangat besar dari peternakan hewan industri.
Bayangkan sebuah peternakan dengan hanya 2.500 sapi perah—mereka menghasilkan limbah sebanyak seluruh kota berpenduduk 411.000 orang. Volume limbah dari hewan ternak sungguh mencengangkan; limbah tersebut bisa menutupi seluruh kota seperti San Francisco, New York, atau Tokyo.
Ada sekitar 270 juta sapi perah di dunia, dan setiap sapi menghasilkan sekitar 120 pon limbah setiap hari. Ini berarti total sekitar 32,4 miliar pon limbah yang dihasilkan setiap hari oleh sapi perah di seluruh dunia.
USDA memperkirakan bahwa kotoran yang dihasilkan oleh hanya 200 sapi perah mengandung nitrogen sebanyak limbah dari seluruh komunitas yang terdiri dari 5.000 hingga 10.000 orang.
Referensi
➡️ https://act.thehumaneleague.org/animal-waste-destroys-nature
➡️ https://www.aspca.org/protecting-farm-animals/factory-farming-environment
➡️ https://www.cowspiracy.com/facts
➡️ https://www.uufhc.net/sustainable_plate.pdf
➡️ https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/36ade937-4641-46ed-aac4-6162717d8a7f/content
➡️ https://nepis.epa.gov/Exe/ZyNET.exe/901V0100.TXT?ZyActionD=ZyDocument&Client=EPA&Index=2000+Thru+2005&Docs=&Query=&Time=&EndTime=&SearchMethod=1&TocRestrict=n&Toc=&TocEntry=&QField=&QFieldYear=&QFieldMonth=&QFieldDay=&IntQFieldOp=0&ExtQFieldOp=0&XmlQuery=&File=D%3A%5Czyfiles%5CIndex%20Data%5C00thru05%5CTxt%5C00000011%5C901V0100.txt&User=ANONYMOUS&Password=anonymous&SortMethod=h%7C-&MaximumDocuments=1&FuzzyDegree=0&ImageQuality=r75g8/r75g8/x150y150g16/i425&Display=hpfr&DefSeekPage=x&SearchBack=ZyActionL&Back=ZyActionS&BackDesc=Results%20page&MaximumPages=1&ZyEntry=1&SeekPage=x&ZyPURL
➡️ https://e360.yale.edu/features/as_dairy_farms_grow_bigger_new_concerns_about_pollution
Jejak Air
Fakta Berbasis Nabati
Memproduksi satu kilogram daging sapi membutuhkan sekitar 15.000 liter air, menyoroti jejak air yang sangat besar dari peternakan hewan. Secara keseluruhan, peternakan menyumbang hampir sepertiga dari konsumsi air tawar dunia.
- Dibutuhkan sekitar 15.000 liter air untuk memproduksi hanya satu kilogram daging sapi.
- Sekitar 4.000 liter air diperlukan untuk memproduksi satu kilogram telur.
- Sekitar 7.500 liter air diperlukan untuk memproduksi satu kilogram keju.
- Rata-rata, sekitar 1.000 liter air dikonsumsi untuk memproduksi satu liter susu.
Peternakan hewan adalah industri yang sangat boros air. Secara global, penggunaan air yang terkait dengan peternakan diperkirakan mencapai 34 hingga 76 triliun galon per tahun. Penggunaan yang sangat besar ini mencakup air untuk minum ternak, irigasi tanaman pakan, dan pengolahan produk hewani seperti daging, susu, dan telur.
Menurut USDA, pertanian menyumbang 80–90 persen dari total konsumsi air di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, menanam tanaman pakan ternak saja menggunakan 56 persen, yang membawa total penggunaan air yang diatribusikan pada industri peternakan menjadi sekitar 34 triliun galon setiap tahun.
Referensi
➡️ https://en.wikipedia.org/wiki/Water_footprint#Water_footprint_of_products_(agricultural_sector)
➡️ https://www.fao.org/interactive/state-of-food-agriculture/2020/en/
➡️ https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/6e2d2772-5976-4671-9e2a-0b2ad87cb646/content
➡️ https://www.earthsave.org/environment/water.htm
➡️ https://academic.oup.com/bioscience/article-abstract/54/10/909/230205?redirectedFrom=fulltext
➡️ https://www.waterfootprint.org/time-for-action/what-can-consumers-do/#productwater-footprint-crop-and-animal-products/
➡️ https://www.ewg.org/consumer-guides/ewgs-quick-tips-reducing-your-diets-climate-footprint
➡️ https://cdn.downtoearth.org.in/library/0.37171200_1556529315_factsheet.pdf
➡️ https://www.cowspiracy.com/facts
➡️ https://pubs.usgs.gov/fs/2009/3098/pdf/2009-3098.pdf
➡️ https://viva.org.uk/planet/the-issues/water-use/
➡️ https://ourworldindata.org/environmental-impact-milks
➡️ https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/22e23c47-5393-451e-b6aa-3f2c6fbc7cbe/content
Fakta Berbasis Nabati tentang Hutan Hujan
Peternakan hewan merupakan pendorong utama deforestasi di hutan hujan Amazon, menyumbang hingga 91% dari hilangnya hutan di wilayah tersebut.
Sekitar 1 hingga 2 hektar hutan hujan ditebang setiap detik, terutama untuk dijadikan lahan penggembalaan ternak dan penanaman tanaman pakan. Deforestasi yang cepat ini tidak hanya menghancurkan habitat penting bagi banyak spesies, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon, mengganggu pola iklim lokal dan global, serta mengurangi kemampuan hutan hujan dalam menyerap karbon.
Produksi daging sapi merupakan penyebab utama deforestasi di seluruh dunia. Sekitar 136 juta hektar hutan hujan telah dibuka untuk peternakan hewan. Konversi hutan menjadi padang rumput untuk sapi dan penanaman pakan mereka menyumbang sekitar 41% dari deforestasi global, yang setara dengan sekitar 2,1 juta hektar per tahun, atau sekitar setengah ukuran Belanda.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/4/XII/0568-B1.htm
➡️ https://www.internetgeography.net/topics/deforestation-in-the-tropical-rainforest/
➡️ https://www.nytimes.com/2017/02/24/business/energy-environment/deforestation-brazil-bolivia-south-america.html?_r=0
➡️ https://www.mightyearth.org/wp-content/uploads/2016/07/MightyEarth_MysteryMeat.pdf
➡️ https://documents1.worldbank.org/curated/en/758171468768828889/pdf/277150PAPER0wbwp0no1022.pdf
➡️ https://www.rainforestrelief.org/What_to_Avoid_and_Alternatives/Rainforest_Wood.html
➡️ https://worldrainforests.com/facts/rainforest-facts.html#8
➡️ https://www.scientificamerican.com/article/earth-talks-daily-destruction/
➡️ https://worldrainforests.com/0812.htm
➡️ https://globalforestatlas.yale.edu/amazon/land-use/soy
➡️ https://www.peta.org/living/food/gisele-cries-meat-deforestation-cattle-grazing-amazon/#:~:text=Animal%20agriculture%20is%20directly%20responsible,two%20acres%20lost%20every%20second.
➡️ https://worldrainforests.com/amazon/amazon_destruction.html
➡️ https://news.mongabay.com/2009/08/brazilian-beef-giant-announces-moratorium-on-rainforest-beef/
Fakta Berbasis Nabati tentang Satwa Liar
Peternakan merupakan salah satu pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati di seluruh dunia, berkontribusi terhadap perusakan habitat, polusi, dan perubahan iklim.
Sekitar 10.000 tahun yang lalu, hampir seluruh biomassa mamalia di Bumi—sekitar 99%—terdiri dari hewan liar. Saat ini, keseimbangan itu telah berubah secara dramatis: manusia dan hewan domestik yang kita pelihara untuk makanan kini mencakup sekitar 98% biomassa mamalia, menyisakan kurang dari 2% untuk satwa liar.
Data terkini menunjukkan bahwa jumlah kuda dan keledai liar yang dikurung di fasilitas penampungan pemerintah kini melebihi jumlah yang hidup bebas di padang rumput publik. Sebagian besar perubahan ini disebabkan oleh fakta bahwa daya dukung alami telah berkurang drastis akibat tekanan penggunaan lahan, penggembalaan berlebihan oleh ternak, dan degradasi habitat.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan bahwa hampir 90% deforestasi global disebabkan oleh perluasan pertanian. Ini mencakup konversi hutan menjadi lahan pertanian dan pembentukan area penggembalaan untuk ternak. Faktanya, penggembalaan saja bertanggung jawab atas hampir 40% hilangnya hutan, menempatkan banyak spesies dan ekosistem di bawah tekanan serius.
Referensi
➡️ https://ourworldindata.org/wild-mammal-decline
➡️ https://www.cowspiracy.com/facts
➡️ https://www.fao.org/newsroom/detail/cop26-agricultural-expansion-drives-almost-90-percent-of-global-deforestation/en
➡️ https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.1711842115
➡️ https://www.blm.gov/programs/wild-horse-and-burro/about-the-program/program-data
Krisis Iklim
Pemanasan Global
Umat manusia menyaksikan dampak pemanasan global yang tak terbantahkan — sebuah krisis yang sebagian besar kita ciptakan sendiri. Di pusat masalah ini terdapat peternakan industri, yang bertanggung jawab atas emisi gas rumah kaca yang sangat besar melalui deforestasi, kotoran hewan, pupuk, dan kebutuhan energi yang besar dari produksi daging dan susu. Praktik-praktik ini tidak hanya memanaskan planet tetapi juga menghabiskan sumber daya alam dan menghancurkan ekosistem yang rapuh. Jika kita ingin mengamankan masa depan yang layak huni, kita harus memikirkan kembali sistem pangan kita dan mengurangi ketergantungan kita pada produk hewani. Aksi iklim yang nyata dimulai dari pilihan manusia — apa yang kita tanam, produksi, dan konsumsi setiap hari.
Referensi
➡️ https://www.fao.org/newsroom/detail/new-fao-report-maps-pathways-towards-lower-livestock-emissions/
➡️ https://academic.oup.com/af/article/9/1/69/5173494
➡️ https://www.ipcc.ch/report/ar5/wg1/
➡️ https://climate.ec.europa.eu/climate-change/causes-climate-change_en
Konsekuensi pemanasan global
Umat manusia benar-benar berada dalam situasi yang sangat serius. Para ahli memperingatkan bahwa jika tren saat ini berlanjut, planet kita bisa memanas hingga 5°C di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini. Perubahan ini akan secara dramatis memengaruhi kehidupan di Bumi. Ini bukan hanya tentang musim panas yang lebih panas; ini akan menyebabkan kerusakan permanen pada sistem alam yang mendukung peradaban manusia. Mencairnya lapisan es kutub akan mempercepat kenaikan permukaan laut, membanjiri kota-kota pesisir dan memindahkan jutaan orang. Kekeringan berkepanjangan dan panas ekstrem akan merusak pertanian, menyebabkan kekurangan pangan dan air yang meluas.
Bagaimana jika kita menutup mata terhadap peringatan-peringatan ini? Harganya akan sangat mahal. Memang, tingkat keparahan banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan badai akan meningkat. Ekosistem akan runtuh, dan spesies akan hilang selamanya. Kekurangan pangan dan air dapat menyebabkan penyakit, perpindahan penduduk, dan konflik di seluruh dunia. Ini bukan ancaman yang jauh.
Lebih banyak daging, lebih banyak panas
Seiring melonjaknya permintaan global akan daging, emisi dari peternakan hewan meningkat ke tingkat yang mengkhawatirkan, mendorong perubahan iklim dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mengatasi krisis ini membutuhkan lebih dari sekadar perubahan kecil dalam gaya hidup — ini menuntut pergeseran fundamental dalam cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan. Mengurangi ketergantungan pada produk hewani sangat penting untuk mengekang emisi gas rumah kaca dan melindungi masa depan planet kita.
Perubahan nyata dimulai dari piring kita: pilihan yang kita buat tentang apa yang kita makan memiliki kekuatan untuk mendinginkan planet dan melestarikan ekosistem untuk generasi mendatang.
Betapa besarnya perbedaan pola makan
Satu-satunya pola makan yang benar-benar 'hijau' adalah pola makan vegan, yang menghasilkan emisi karbon jauh lebih rendah dibandingkan pola makan lainnya. Memilih makanan nabati daripada produk hewani adalah cara paling efektif untuk mengecilkan jejak iklim pribadi Anda.
Makan untuk Lingkungan
Planet kita menyediakan air, udara, dan tanah subur yang menopang kehidupan, tetapi aktivitas manusia mendorongnya ke ambang batas. Jika kita gagal bertindak, kita berisiko kehilangan danau, hutan, dan tanah yang memberi nutrisi bagi kita dan spesies lain yang tak terhitung jumlahnya. Untungnya, kita sudah memiliki cara yang ampuh untuk mengurangi dampak kita: veganisme.
Satu-satunya pola makan yang benar-benar 'hijau', gaya hidup vegan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah daripada pola makan daging, ikan, atau vegetarian. Makanan nabati membutuhkan lebih sedikit air, lahan, dan bahan kimia, serta jauh lebih efisien untuk diproduksi, memberi makan lebih banyak orang dengan lebih sedikit sumber daya. Pergeseran global menuju pola makan nabati dapat mengurangi emisi terkait makanan hingga dua pertiga, membantu mencegah keruntuhan iklim sambil memastikan makanan yang cukup untuk semua orang.
















































